Mengulas Salò (1975) karya Pier Paolo Pasolini: kritik fasisme yang transgresif, sejarah kontroversi pelarangannya di puluhan negara, hingga tragedi pembunuhan sang sutradara.
Dalam sejarah sinema eksperimental dan transgresif, tidak ada film yang memicu perdebatan politik, etika, dan estetika sedahsyat Salò, or the 120 Days of Sodom (1975). Disutradarai oleh penyair dan intelektual Italia, Pier Paolo Pasolini, film ini berdiri sebagai salah satu karya paling mengerikan sekaligus paling tajam dalam mengkritik ideologi otoriter.
Mengadaptasi novel kontroversial karya Marquis de Sade ke latar Italia era Perang Dunia II, Salò menyajikan pengalaman menonton yang sangat ekstrem, menyakitkan, namun secara teoretis diakui sebagai alegori politik yang brilian.
1. Adaptasi Marquis de Sade dan Kritik atas Fasisme
Pasolini memindahkan latar cerita novel karya Marquis de Sade ke Republik Sosial Italia (Republik Salò) pada tahun 1944—sebuah rezim boneka fasis pimpinan Benito Mussolini di akhir Perang Dunia II. Cerita berfokus pada empat penguasa fasis: Sang Adipati, Sang Uskup, Sang Hakim, dan Sang Presiden.
Keempatnya menculik belasan pemuda-pemudi dan mengurung mereka di sebuah vila terisolasi. Struktur film ini dibagi menjadi empat babak yang terinspirasi dari struktur Inferno karya Dante: Babak Gairah (*Giron of Manias*), Babak Kotoran (*Giron of Shit*), dan Babak Darah (*Giron of Blood*).
Melalui adegan-adegan dehumanisasi yang traumatis, Pasolini tidak berniat menyajikan eksploitasi visual murahan, melainkan menggambarkan bagaimana kekuasaan fasis yang absolut mengkomodifikasi dan menghancurkan tubuh manusia hingga tak tersisa.
2. Gelombang Sensor dan Pelarangan di Puluhan Negara
Sejak pertama kali diputar, Salò langsung memicu gelombang penolakan dari berbagai lembaga sensor dunia. Film ini dilarang tayang secara resmi di puluhan negara, termasuk Australia, Inggris, Jerman, dan Selandia Baru selama bertahun-tahun.
Tingkat kebrutalan psikologis dan visualnya membuat banyak kritikus film saat itu menyebutnya sebagai "film paling tidak bisa ditonton dalam sejarah". Kendati demikian, Pasolini dengan tegas menyatakan bahwa ketidaknyamanan penonton adalah tujuan utamanya:
"Tidak ada yang lebih destruktif selain konsumerisme dan fasisme yang memuaskan nafsu dengan mengorbankan martabat manusia lain," ungkap Pasolini dalam catatan produksinya.
3. Tragedi Kematian Tragis Pier Paolo Pasolini
Sisi paling kelam dari sejarah film ini terletak pada nasib pembuatnya sendiri. Hanya beberapa minggu sebelum Salò tayang perdana di Festival Film Paris pada November 1975, Pier Paolo Pasolini ditemukan tewas secara tragis di pantai Ostia, Italia.
Tubuhnya dihantam dan dilindas menggunakan mobil miliknya sendiri. Meskipun polisi menangkap seorang pemuda lokal, banyak teori konspirasi yang meyakini bahwa Pasolini dibunuh oleh kelompok politik sayap kanan atau fasis yang merasa terancam oleh pesan tajam yang ia sampaikan dalam film Salò.
4. Warisan Sinema Transgresif dan Evaluasi Kritikus Today
Puluhan tahun pasca perilisannya, status Salò perlahan bergeser dari sekadar film eksploitasi yang dikutuk menjadi mahakarya intelektual. Lembaga arsip film bergengsi seperti The Criterion Collection bahkan merilis ulang film ini dengan restorasi khusus, menyertakan analisis teoretis mendalam.
Salò tetap diakui sebagai benteng terakhir sinema transgresif—sebuah cermin buruk rupa mengenai betapa gelapnya potensi manusia ketika kekuasaan berjalan tanpa kontrol moral.
Film Salò adalah pengingat bahwa seni kadang harus melintasi batas kenyamanan untuk menyampaikan kebenaran yang pahit. Apakah kamu memandang film ini sebagai bentuk kritik politik yang brilian, atau justru batas eksperimen sinema yang sudah terlalu jauh? Tulis pandanganmu di kolom komentar!
