2dWKdFNkxOyBRQLRcR9YEgitxZ7SO5YClZXQzGuH
Bookmark

Mengulas jejak Varg Vikernes (Burzum), figur paling infam dalam sejarah Norwegian Black Metal dari proyek musik atmospheric, kasus pembakaran gereja, hingga pembunuhan Euronymous.

Kalau bicara soal sejarah Norwegian Black Metal awal 90-an, nama **Varg Vikernes** adalah figur yang mustahil diabaikan. Di satu sisi, dia diakui sebagai salah satu pionir musik ekstrim yang melahirkan sub-genre Atmospheric Black Metal. Namun di sisi lain, jejak kriminal dan ideologinya menjadikan dia salah satu sosok paling infam dalam sejarah musik modern.

Mengusung nama panggung Count Grishnackh lewat proyek solo bernama Burzum, Varg mentransformasi kegelapan musik menjadi tindakan kriminal nyata di dunia nyata—sebuah drama sejarah yang melibatkan pembakaran gereja tua hingga aksi pembunuhan berdarah dingin.

📢 Catatan Editor: Artikel ini mengulas sejarah perkembangan subkultur musik metal, rekam jejak historis, dan dampaknya terhadap pop-culture tanpa bertujuan mendukung ideologi atau aksi kriminal tokoh yang dibahas.
Burzum Filosofem
Burzum Filosofem
src : Wikipedia

1. Burzum: Mahakarya Atmosferik dari Kamar Tidur

Di saat kancah metal dunia era 1990-an sedang didominasi oleh kecepatan instrumen dan teknis yang rumit, Varg Vikernes yang baru berusia belasan tahun mengambil jalur sebaliknya. Di dalam kamarnya, dia merekam album-album awal Burzum seperti Filosofem dan Hvis Lyset Tar Oss dengan peralatan seadanya.

Varg menggunakan instrumen berkualitas rendah, headphone murahan sebagai mikrofon vokal, serta repetisi nada riff gitar yang hipnotis. Formula ini justru melahirkan suara dingin, mentah, dan melankolis yang belum pernah terdengar sebelumnya.

Album-album eksperimental tersebut hingga kini diakui para kritikus musik sebagai cetak biru lahirnya genre Dungeon Synth dan Atmospheric Black Metal.

Burzum Aske
Burzum Aske
src : Wikipedia

2. Pembakaran Gereja & Tragedi Pembunuhan 1993

Ambisi Varg tidak berhenti di dalam studio rekaman. Bersama lingkaran kelompok yang dijuluki media sebagai Black Metal Inner Circle, Varg terlibat aktif dalam gelombang pembakaran gereja-gereja kayu bersejarah (Stave Church) di Norwegia pada era 1992–1993.

Puncak dari eskalasi ini terjadi pada Agustus 1993. Ketegangan antara Varg dan gitaris band Mayhem, **Øystein Aarseth (Euronymous)**, berujung pada tragedi mematikan. Varg mendatangi apartemen Euronymous di Oslo dan menghabisinya dengan 23 luka tusukan.

"Media membuat kami terlihat seperti pemuja setan yang membabi buta, padahal yang terjadi adalah perang ideologi dan perselisihan pribadi yang lepas kendali," klaim Varg dalam tulisan-tulisannya.

Varg akhirnya dijatuhi hukuman 21 tahun penjara—hukuman maksimal di hukum pidana Norwegia saat itu—atas kasus pembunuhan Euronymous serta pembakaran tiga gereja.

3. Kehidupan di Penjara & Era Post-Burzum

Di dalam sel tahanan, Varg dilarang memegang gitar listrik. Alih-alih berhenti berkarya, dia beralih ke synthesizer sederhana dan merilis dua album ambient bersuasana neoklasik/pagan: Dauði Baldrs dan Hliðskjálf.

Selama menjalani masa hukuman, Varg juga memproduksi berbagai buku mengenai mitologi Nordik, ideologi neopaganisme, dan pandangan hidup survivalis. Setelah bebas bersyarat pada tahun 2009 pasca menjalani 15 tahun masa kurungan, ia pindah ke Prancis bersama keluarganya.

Di era digital, Varg sempat aktif mengunggah video di saluran YouTube pribadinya (Thulean Perspective) yang membahas gaya hidup *off-grid*, teori konspirasi, dan pandangan politik ekstrim sebelum akhirnya salurannya ditutup permanen oleh pihak platform.

4. Bisakah Memisahkan Karya dari Sosok Pembuatnya?

Hingga hari ini, nama Varg Vikernes menjadi dilema moral paling besar bagi penikmat musik metal. Di satu sisi, lagu-lagu Burzum menjadi pengaruh besar bagi ribuan band metal modern di seluruh dunia. Di sisi lain, rekam jejak kriminal serta ideologi kontroversial yang diusungnya membuat banyak orang enggan memberikan panggung.


Kisah Varg Vikernes adalah pengingat betapa tipisnya batas antara batas ekspresi seni ekstrem dan bahaya radikalisme di dunia nyata. Bagaimana denganmu—apakah kamu tipe yang masih bisa menikmati musik Burzum secara independen, atau justru langsung memboikot karyanya karena tindakan sang kreator? Tulis pendapatmu di kolom komentar!

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar